top of page

Ancaman Siber Berbasis AI yang Diprediksi Menguasai 2026

  • Writer: Khaira Ulfia Sabil
    Khaira Ulfia Sabil
  • Dec 10, 2025
  • 4 min read

Ancaman siber berbasis AI tidak lagi sekadar prediksi, tetapi tren nyata yang sudah terjadi saat ini dan diprediksi akan meningkat tajam di tahun 2026. Teknologi kecerdasan buatan (AI) memang membawa banyak manfaat, tapi juga membuka peluang baru bagi hacker untuk menyerang dengan cara yang lebih cepat, otomatis, dan sulit dideteksi. Menurut laporan Fortinet dan Google Cloud, perusahaan harus segera bersiap karena cara lama melindungi sistem menjadi tidak lagi efektif.



Apa Itu Ancaman Siber Berbasis AI?

Sederhananya, ancaman siber berbasis AI adalah serangan hacker yang menggunakan kecerdasan buatan untuk:

  1. Mencari celah keamanan di sistem secara otomatis

  2. Meniru cara orang berkomunikasi (termasuk suara dan video)

  3. Mengubah-ubah cara serangannya agar tidak ketahuan

  4. Menyerang banyak target sekaligus tanpa perlu campur tangan manusia

  5. Menghindari sistem keamanan tradisional yang biasa dipakai


Menurut Google Cloud, AI bisa mempercepat semua tahap serangan mulai dari riset target sampai eksekusi serangan. Artinya, waktu untuk mendeteksi dan menghentikan serangan semakin singkat. Bedanya dengan serangan biasa? Kalau dulu hacker harus manual melakukan satu per satu, sekarang dengan AI semua bisa berjalan otomatis.


5 Jenis Ancaman AI yang Akan Meningkat di 2026

1. Kejahatan Siber Terorganisir dan Otomatis

Berdasarkan laporan dari Fortinet menunjukkan bahwa kejahatan siber kini beroperasi seperti industri. Serangan dilakukan secara massal, terstruktur, dan efisien.

  • Serangan berskala besar dan terkoordinasi

  • Malware dan ransomware dijual sebagai layanan (Cybercrime-as-a-Service)

  • Siapa pun dapat melakukan serangan tanpa keahlian teknis tinggi


2. Scanning dan Eksploitasi Celah Secara Otomatis

Fortinet mencatat bahwa AI memungkinkan pelaku memindai ribuan sistem dalam waktu singkat untuk mencari celah keamanan. Dampaknya:

  • Scan ribuan sistem dalam hitungan menit

  • Eksekusi serangan dalam hitungan menit setelah menemukan celah

  • Botnet yang bisa kerja sendiri tanpa diatur manusia


3. Phishing dan Deepfake yang Sulit Dibedakan

Google Cloud memperingatkan bahwa AI membuat serangan phishing dan penipuan jadi jauh lebih canggih dan sulit dibedakan dari yang asli. Contoh serangan dengan AI:

  • Email Phishing yang Personal: Tidak lagi pakai template yang isinya kaku. AI bisa analisis gaya komunikasi dari media sosial, lalu bikin email palsu yang persis seperti cara orang tulis

  • Suara Palsu (Deepfake Voice): Hacker bisa meniru suara CEO atau CFO perusahaan hanya dari sampel audio beberapa detik. Lalu telepon ke tim finance untuk transfer uang

  • Video Palsu (Deepfake Video): Buat video palsu untuk manipulasi, penipuan, atau merusak reputasi perusahaan.


4. Malware dan Ransomware yang Lebih Cerdas

Fortinet melaporkan bahwa malware sekarang sudah "pintar" dan bisa beroperasi sendiri dengan efisien. Yang bisa dilakukan malware pintar:

  • Peta sendiri seluruh jaringan perusahaan untuk cari data penting

  • Pilih target yang paling berharga (database, backup, sistem keuangan)

  • Mengeksekusi pencurian atau enkripsi data secara otomatis


5. Pencurian Identitas dan Password Secara Massal

Fortinet juga mencatat bahwa banyak password dan data login yang bocor dan dijual di dark web. Dengan bantuan AI, hacker bisa maksimalkan nilai dari data yang dicuri. Yang dilakukan AI dengan password yang bocor:

  • Cek apakah orang tersebut pakai password yang sama di banyak akun

  • Coba otomatis semua password yang bocor ke berbagai website

  • Setelah masuk ke satu akun, cari cara untuk masuk ke sistem lain

  • Cari cara untuk dapat akses admin atau akun dengan privilege tinggi


Dampak Nyata Ancaman Siber Berbasis AI bagi Perusahaan

Jika tidak diantisipasi, perusahaan berisiko menghadapi:

  1. Kebocoran data berskala besar

  2. Kerugian finansial dan downtime operasional

  3. Penurunan kepercayaan pelanggan dan mitra

  4. Beban kerja tim IT yang meningkat

  5. Risiko hukum dan kepatuhan regulasi


Cara Menghadapi Ancaman Siber Berbasis AI

Berdasarkan rekomendasi dari Fortinet dan Google Cloud, perusahaan perlu mengubah pendekatan keamanan menjadi lebih proaktif dan terintegrasi.


1. Pakai Sistem Keamanan yang Juga Pakai AI

Lawan AI dengan AI. Sistem keamanan modern seperti XDR (Extended Detection and Response) atau EDR (Endpoint Detection and Response) menggunakan AI untuk mendeteksi serangan yang tidak bisa dikenali antivirus biasa. Keuntungannya:

  • Bisa deteksi pola aneh yang tidak normal

  • Analisis data dari banyak sumber sekaligus

  • Cari ancaman secara otomatis tanpa nunggu ada laporan

  • Analisis forensik setelah terjadi serangan


2. Terapkan Zero Trust Security

Setiap orang, device, dan aplikasi harus diverifikasi setiap kali mau akses data, tidak peduli dari mana asalnya. Komponen penting:

  • Verifikasi identitas dengan Multi-Factor Authentication (MFA)

  • Cek device aman atau tidak sebelum kasih akses

  • Kasih akses sesuai kebutuhan saja, tidak lebih

  • Monitor terus-menerus dan sesuaikan aturan


3. Gunakan SOAR untuk Respons Otomatis

SOAR (Security Orchestration, Automation, and Response) membuat respons terhadap serangan jadi otomatis dan cepat. Ketika ancaman siber berbasis AI bergerak super cepat, respons manual tidak akan cukup cepat. Yang bisa dilakukan SOAR:

  • Isolasi komputer yang terinfeksi secara otomatis

  • Putus akses jaringan untuk batasi penyebaran

  • Koordinasi semua tools keamanan

  • Jalankan prosedur penanganan yang sudah disiapkan

  • Integrasi dengan threat intelligence untuk info terbaru


4. Lindungi Identitas dan Password

Identitas adalah perimeter baru di era cloud dan remote work. Melindungi identitas sama pentingnya dengan melindungi jaringan. Best practice:

  • Wajibkan Multi-Factor Authentication (MFA) untuk semua akses penting

  • Pakai passwordless authentication seperti biometric atau hardware token

  • Monitor apakah password perusahaan ada yang bocor di dark web

  • Kelola khusus akun admin dengan Privileged Access Management (PAM)

  • Ganti password secara berkala dan pastikan password kuat


5. Gunakan Threat Intelligence

Threat intelligence memberikan informasi tentang siapa penyerang, cara mereka menyerang, dan tanda-tanda serangan terbaru. Manfaatnya:

  • Dapat peringatan dini tentang ancaman baru

  • Tahu apakah serangan ini bagian dari kampanye yang lebih besar

  • Prioritaskan ancaman yang paling relevan dengan industri

  • Blokir proaktif berdasarkan IP, domain, dan file yang sudah diketahui berbahaya


6. Training Karyawan Secara Berkala

Meskipun AI membuat serangan lebih canggih, awareness karyawan tetap penting. Mereka perlu dilatih untuk mengenali:

  • Email phishing yang dibuat AI

  • Komunikasi yang mencurigakan atau tidak biasa

  • Tanda-tanda deepfake

  • Teknik social engineering


Kesimpulan

Ancaman siber berbasis AI bukan lagi prediksi, melainkan realitas yang akan semakin dominan di tahun 2026. Kecepatan, otomatisasi, dan kecanggihan serangan menuntut perusahaan untuk beralih dari pendekatan reaktif ke strategi keamanan yang lebih adaptif dan terintegrasi. Dengan kombinasi teknologi yang tepat, otomasi keamanan, dan kesiapan organisasi, risiko serangan berbasis AI dapat ditekan sehingga bisnis tetap berjalan aman dan berkelanjutan.


MWS Siap Mendukung Keamanan Bisnis di Era AI

Meta Wangsa Solusi menyediakan layanan yang dapat membantu perusahaan menghadapi ancaman yang semakin cepat dan cerdas.


📩 Hubungi tim MWS disini atau melalui email relation@meta-solusi.co.id untuk mendapatkan konsultasi gratis.

bottom of page